Doktrinasi Kualifikasi Sosial

Judul yang sangat aneh, bukan begitu? Tapi memang tulisan berikut ini akan membahas apa dampak dari judul diatas dalam kehidupan sehari-hari kita, jika kitapun terdoktrin dengan Kualifikasi Sosial tersebut. Judul diatas adalah istilah yang saya buat sendiri untuk menspesifikkan Kesenjangan Sosial. Dari apa yang kita lihat di sekitar kita. Kita sebenarnya mampu menilai sendiri kualifikasi sosial yang saya maksud. Contohnya sangat banyak, misalkan Lapangan Pekerjaan yang dengan itu kita menjadi manusia seutuhnya, yang saya maksud disini adalah dianggap sebagai manusia. Meski dengan gaji pokok kecil asalkan oranglain melihat kita bekerja pada sebuah pekerjaan yang jelas terlihat, misalkan pada Pabrik, maaf, bukan bermaksud merendahkan pekerjaan ini tapi dari kenyataannya pekerjaan ini berpendapatan sedikit rendah dan jika kita masuk kedalamnya, kita sudah tentu akan dijadikan manusia oleh umum, kenapa? Karena kita sudah memiliki pekerjaan yang jelas di salah satu perusahaan. Doktrinasi semacam ini yang ingin saya bahas dan permasalahkan. Dikarenakan pandangan sebelah mata oleh umum kepada mereka yang menghasilkan uang dengan cara mereka sendiri tanpa terlihat signifikan dia bekerja dimana dan apa yang mereka kerjakan. Pengalaman pribadi penulis? Ya, benar sekali, pengalaman pribadi penulis, tapi saya yakin banyak orang yang dipandang sebelah mata karena pekerjaannya atau cara mereka mendapatkan uang. Perlu dicatat, kita mencari uang bukan pekerjaan, bukan begitu? Lalu kenapa kita bersusah payah membayar kepada mereka yang akan memberikan pekerjaan kepada kita? Kita mencari uang dengan bekerja tapi kenapa kita harus membayar orang yang ingin mempekerjakan kita? Bukankah aneh kedengarannya? Ya memang aneh tapi itulah faktanya saat ini.

Menurut penulis, bekerja adalah untuk mendapatkan uang bukan menuruti Doktrinasi Kualifikasi Sosial tentang “Pekerjaan yang jelas adalah standard kehidupan” perlu digaris bawahi, pekerjaan yang jelas yang dimaksud penulis adalah terlihat bekerja, sebagai contoh sudah penulis berikan diatas. Standarisasi seperti ini yang penulis maksud dengan kualifikasi sosial. Dan sayangnya doktrin seperti ini sudah sangat melekat pada masyarakat umum disekitar kita, sedikit orang yang tidak memandang  lemah manusia-manusia yang mempekerjakan diri mereka sendiri dengan pekerjaan yang mereka ciptakan sendiri dan menghasilkan uang dengan cara mereka sendiri.

Dampak yang jelas dari doktrin kualifikasi sosial adalah diperjualbelikannya pekerjaan, anda ingin bekerja, siapkan uang yang memadahi terlebih dahulu, seperti waktu kemarin penerimaan PNS atau yang sering disebut sebagai CPNS, didalamnya ada syarat yang harus anda penuhi, memiliki saldo minimal 10 juta rupiah dalam rekening atas nama sendiri, bahkan ada yang mengatakan (entah benar atau salah) 100 juta rupiah jika diterima menjadi PNS. Ini benar-benar gila, sebegitu berharganya “pekerjaan yang jelas” hingga kita harus membayar untuk memasuki dunia pekerjaan itu. Bukankah bekerja untuk mendapatkan uang? Lalu untuk apa kita membayar? Untuk apa uang yang kita bayarkan? Disinilah ketidaktahuan kita. Kualifikasi sosial bagi penulis adalah salah satu hal yang lebih mengerikan dibandingkan dengan monster manapun.

Bekerjalah agar anda dianggap manusia. Kenyataan yang sangat memprihatinkan, anda dituntut untuk mendapatkan pekerjaan sedangkan lapangan pekerjaan kian lama kian sulit untuk didapatkan, bagaimana bisa? Ya, dari keadaan itulah anda akan rela mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan pekerjaan yang mereka bilang layak.

Sebagai contoh nyata doktrin gila ini, ada beberapa orang yang mempekerjakan diri mereka sendiri dan berpendapatan lebih dari mereka yang bekerja di pabrik, tapi orang yang mempekerjakan diri mereka sendiri ini tetap saja bukan manusia atau tidak dimanusiakan atau dipandang sebelah mata oleh banyak orang.

Penulis tidak bermaksud untuk mendiskreditkan pekerjaan yang layak, hanya saja penulis benar-benar mendiskreditkan pemahaman sosial masyarakat kita yang saya sebut dengan kualifikasi sosial, kebodohan, dampak dari pengkapitalisan segala aspek di masyarakat kita ini. Selain untuk berbagi pemikiran, saya juga ingin menyemangati diri saya sendiri, mungkin terkesan idealis dan tidak realistis, tapi coba kita pikirkan, apakah yang saya paparkan diatas tidak ada dalam kehidupan sehari-hari kita yang tentu saja real? Idealis memang, tapi apakah salah melawan doktrin gila semacam ini? Semoga teman-teman yang sepemikiran tidak patah semangat untuk menunjukkan kepada mereka bahwa kita tidak perlu kualifikasi sosial untuk dimanusiakan.

0 comments:

Poskan Komentar

 

Sahabat

Mari Bergabung

Sumbangkan pemikiran kalain, bergabung menjadi kontributor Pemuda Indonesia. Jika anda berminat, silahkan baca cara bergabung dengan kami disini. Terimakasih.

Login

Klik Disini untuk Login ke Blogspot

Indonesiaku Indonesiamu

Indonesiaku Indonesiamu
Bangga menjadi anak Indonesia
© Pemuda Indonesia Template Copyright by Pemuda Indonesia | PEMUDA INDONESIA | There's will be no Pain